Cisarua, BOGOR– Di tengah tantangan dunia pendidikan yang kian kompleks dan berkembang pesatnya teknologi, Sampoerna University hadir menembus batas geografis dan sosial melalui program pengabdian masyarakat bertajuk SERASA SU (Semangat Rasa, Aksi Sampoerna University).

Kali ini, daerah yang menjadi tujuan adalah Cisarua, sebuah kawasan di kaki Gunung Gede Pangrango yang menyimpan semangat luar biasa dari para pendidik desa.

Selama dua hari, pada 23–24 Juni 2025, kegiatan pelatihan guru SD berlangsung di Gedung PGRI Cisarua, menjangkau lebih dari 60 guru aktif dari berbagai sekolah dasar negeri di wilayah tersebut. Mereka datang dari SDN Jogjogan 01, SDN Jogjogan 02, SDN Cilember 01, dan SDN Batulayang—empat sekolah yang selama ini belum banyak tersentuh pelatihan pendidikan berbasis teknologi modern.

Kegiatan ini digagas dan dikoordinasi langsung oleh Santo Tjhin, M.Ds., M.M., MCHt, salah satu dosen aktif Sampoerna University yang dikenal luas karena konsistensinya dalam mendorong pendidikan berbasis visual dan teknologi, terutama di daerah pinggiran. Bersama para dosen dari berbagai latar belakang keilmuan, Santo membentuk tim penggerak yang berkomitmen turun langsung ke lapangan.

“Kita ingin membawa harapan baru, semangat baru, dan praktik pendidikan baru yang relevan dengan era kecerdasan buatan (AI), namun tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan karakter,” tutur Santo.

Mengangkat tema besar “Innovative Teaching in the AI Era: STEAM, Visual Literacy, and Character Integration”, kegiatan ini berfokus pada bagaimana guru-guru bisa menjadi pelopor transformasi pendidikan yang mengintegrasikan teknologi seperti AI, pendekatan berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics), serta penguatan literasi visual dan karakter siswa.

Hari pertama pelatihan dibuka dengan hangat oleh para tokoh pendidikan lokal, termasuk Bapak Eris selaku Koordinator Guru Wilayah Cisarua dan Bapak Didi dari K3S Cisarua. Keduanya memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif ini dan menyatakan kesiapan untuk membuka ruang kolaborasi lanjutan.

Sesi-sesi pelatihan dikemas interaktif dan inspiratif. Dimulai dari pemanfaatan AI dalam kegiatan belajar mengajar oleh Bapak Surya D.L dan Ibu Desyarti Safarini, para peserta diajak mengenali aplikasi praktis kecerdasan buatan yang bisa mereka manfaatkan di kelas—mulai dari alat bantu penilaian otomatis, hingga simulasi berbasis AI.

Dilanjutkan dengan sesi Literasi Matematika dan Keuangan oleh Ibu Deshinta P.A.D.A bersama mahasiswa pendamping, peserta pelatihan dibekali strategi menyampaikan konsep abstrak dengan cara visual dan kontekstual—satu pendekatan yang sangat sesuai dengan karakteristik anak usia SD di pedesaan.

Tak ketinggalan, sesi Literasi Visual AI untuk Pendidikan yang difasilitasi oleh Santo Tjhin bersama Bapak Rahmat Arsyadi, memperkenalkan metode penyampaian pembelajaran dengan konten visual interaktif. Peserta terlibat langsung dalam eksplorasi tools sederhana yang bisa mereka akses tanpa biaya besar.

Kegiatan hari kedua semakin memperkuat materi yang sudah diberikan sebelumnya. Dalam sesi oleh Bapak Budi Hadisujoto, para guru diperkenalkan pada pemanfaatan AI di level dasar, termasuk etika penggunaannya dalam pendidikan. Disusul sesi yang sangat aplikatif mengenai penggunaan simulasi PHET (Physics Education Technology) untuk pengajaran sains, yang dibawakan oleh Bapak Iwan S dan Bapak Ilham.

Antusiasme para guru tidak dapat disembunyikan. Beberapa di antaranya bahkan mengaku baru kali ini mendapatkan pelatihan yang menyentuh langsung kebutuhan sehari-hari di kelas.

“Ini pertama kalinya kami merasa pelatihan ini benar-benar bisa kami terapkan. Terima kasih kepada Sampoerna University yang tidak hanya datang, tapi juga hadir sepenuh hati,” ungkap salah satu peserta, guru SD dari Jogjogan.

Pelatihan ini bukan hanya soal ilmu baru. Di sela sesi, kegiatan seperti ice breaking, kuis interaktif, hingga pembagian door prize memperkuat rasa kekeluargaan dan mendorong keterlibatan aktif peserta. Tidak sekadar duduk dan mendengar, para guru diundang untuk mencoba langsung, berdiskusi, bahkan berbagi pengalaman satu sama lain.

Program SERASA SU telah membuktikan bahwa pengabdian bukan sekadar agenda akademik, tetapi bentuk nyata dari empati, kolaborasi, dan kepedulian terhadap masa depan bangsa. Apa yang dilakukan di Cisarua adalah benih kecil yang jika disebar ke wilayah lain, akan menumbuhkan generasi pendidik yang tangguh dan adaptif.

“Kami berharap program ini bisa menjangkau lebih banyak wilayah terluar, terutama desa-desa yang belum mendapat akses pelatihan teknologi,” ujar Surya D.L, yang menjadi salah satu narasumber dan penutup acara hari kedua.

Ke depan, Sampoerna University merencanakan pelatihan serupa di wilayah-wilayah lain di Indonesia. Mengangkat semangat “from university to village”, para dosen dan mahasiswa SU percaya bahwa perubahan pendidikan dimulai dari keberanian untuk hadir di tengah masyarakat—bukan hanya di ruang kelas, tapi juga di desa-desa yang jauh dari sorotan.

Program SERASA SU bukan hanya tentang teknologi atau AI. Ia tentang harapan. Tentang jembatan yang dibangun antara pengetahuan dan keterbatasan. Tentang kampus yang tidak hanya mendidik, tetapi juga mendekat, mendengar, dan menginspirasi.

Dari Cisarua, Sampoerna University telah menyalakan api semangat baru. Api yang, semoga, terus menyala hingga ke pelosok Indonesia.