Pamekasan, DINAMIKAPOS – Jeritan nelayan akhirnya menggema hingga ke gedung DPRD Pamekasan. Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang kian parah memaksa para nelayan mengadu langsung ke Komisi II DPRD Pamekasan dalam audiensi yang digelar hari Rabu (01/042026).

Tak butuh waktu lama, respon cepat langsung ditunjukkan. Sekertaris Komisi II DPRD Pamekasan, Moh. Faridi, yang turut menerima aspirasi tersebut, langsung bergerak cepat turun ke lapangan untuk mengecek kondisi riil yang dialami nelayan.

Langkah ini menjadi bukti bahwa persoalan yang disampaikan bukan sekadar keluhan biasa.

Di lapangan, fakta menunjukkan bahwa nelayan menghadapi kesulitan serius untuk mendapatkan solar, yang merupakan “urat nadi” aktivitas melaut.

“Ini bukan masalah sepele. Solar bagi nelayan itu soal hidup-mati. Kalau mereka tidak bisa melaut karena BBM langka, lalu bagaimana mereka menghidupi keluarga?” tegas Moh. Faridi dengan nada serius.

Ia menilai, persoalan ini tidak boleh dibiarkan berlarut. Pemerintah daerah diminta segera turun tangan dan menghadirkan solusi konkret, bukan sekadar janji.

“Temuan di lapangan akan segera kami sampaikan ke pihak eksekutif. Ini harus ada langkah nyata, bukan hanya wacana,” imbuhnya.

Kelangkaan solar yang terus terjadi dinilai berpotensi melumpuhkan perekonomian masyarakat pesisir di Pamekasan.

Jika dibiarkan, dampaknya tidak hanya dirasakan nelayan, tetapi juga sektor ekonomi lain yang bergantung pada hasil tangkapan laut.

Komisi II DPRD Pamekasan menegaskan komitmennya untuk terus mengawal persoalan ini hingga tuntas.

Mereka mendesak agar distribusi BBM untuk nelayan benar-benar diawasi dan dipastikan tepat sasaran.

Kini, publik menunggu: akankah pemerintah daerah bergerak cepat, atau membiarkan nelayan terus bertahan di tengah himpitan kelangkaan solar.