SUMENEP, DINAMIKAPOS– Harapan besar pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang pemerintah demi memperbaiki kualitas gizi siswa, justru tercoreng di Kabupaten Sumenep. Di Kecamatan Pragaan, menu MBG dilaporkan basi bahkan berulat. Fakta ini memicu kekecewaan wali murid sekaligus sorotan tajam dari kalangan legislatif.

Anggota DPRD Sumenep Dapil 3, M. Ramzi, menilai kasus itu memperlihatkan lemahnya pengawasan di tingkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). “Kasus itu menunjukkan pengawasannya lemah. Mestinya hal seperti ini tidak boleh terjadi, apalagi program MBG masih baru,” tegas Ramzi, Senin (08/09/2025).

Ramzi mengingatkan bahwa program yang seharusnya menjadi solusi pemenuhan gizi justru berisiko menimbulkan masalah baru. “Kalau seperti itu, jangan-jangan bukan lagi bergizi gratis, tapi malah berbahaya. Bisa seperti kasus di Pamekasan, ada yang sakit bahkan keracunan,” sindirnya.

Menurut Ramzi, persoalan makanan basi bukanlah kesalahan teknis biasa, melainkan kelalaian serius yang bisa menggerus kepercayaan publik. Ia mendesak agar pengelola MBG lebih berhati-hati, disiplin dalam standar kesehatan, dan tidak sekadar mengejar target serapan program.

“Kalau masih terjadi lagi, berarti ada indikasi kesengajaan. Itu tidak bisa ditoleransi. Pihak berkompeten harus turun tangan, bahkan menghentikan sementara bila perlu,” tegasnya.

Meski pihak pengelola berjanji melakukan perbaikan, DPRD menilai kejadian di Pragaan meninggalkan catatan hitam. Program yang digadang-gadang untuk memperkuat generasi sehat justru rawan menjadi bom waktu jika tidak disertai pengawasan ketat.