JOMBANG,DINAMIKAPOS— Pimpinan Wilayah Generasi Muda Pembangunan Indonesia (PW GMPI) Jawa Timur bersama Jaringan Santri Nahdlatul Ulama (JAS-NU) menggelar diskusi bertajuk NgoPi (Ngobrol Pinter) Ber-NU untuk Kemaslahatan Ummat di Kedai Viaipi, Jombang, Pada Jumat (28/8).

Forum tersebut mempertemukan kader muda Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai organisasi kepemudaan, termasuk Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Empat narasumber hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka adalah M. Arwani Thomafi, Komisaris PT PLN Icon Plus; Dr. Achmad Baidowi, S.Sos., M.Si., Komisaris Utama PT ASDP Indonesia Ferry; Arya Sandhiyuda, Ph.D., Direktur Kelembagaan PTPN IV; serta akademisi UNU Surabaya, Mustofa, S.Pd., M.A., Ph.D.
Ketua PW GMPI Jawa Timur, Holik Ferdiansyah, S.Pd., S.H., M.H., mengatakan kegiatan tersebut digelar dalam rangka menyemarakkan Muktamar NU ke-35. Ia menyebut GMPI memiliki basis kader yang berlatar belakang Nahdliyin.

“Meski nampak santai, kami berharap diskusi ini mampu menjadi penopang terhadap keberlanjutan Nahdlatul ulama yang maju,” ujar Holik.

Menurutnya, forum semacam itu menjadi ruang penting untuk mempertemukan gagasan antarkader muda. Selain memperluas perspektif, diskusi juga diharapkan dapat mendorong lahirnya pemikiran yang konstruktif bagi perjalanan NU ke depan.

Sementara itu, Dr. H. Ahmad Baidowi, S.Sos., M.Si., dalam paparannya menekankan pentingnya menjadikan Muktamar NU ke-35 sebagai momentum untuk memperkuat arah organisasi sekaligus menyiapkan generasi penerus.

“NU ini organisasi besar. Karena itu, keberlanjutan NU tidak cukup hanya berbicara siapa yang memimpin, tetapi juga bagaimana menyiapkan kader yang mampu meneruskan perjuangan, memahami perubahan zaman, dan tetap berpijak pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah,” kata Baidowi.

Menurut Baidowi, generasi muda mempunyai posisi strategis dalam menjaga kesinambungan organisasi. Perubahan sosial dan perkembangan zaman, kata dia, menuntut kader NU memiliki kapasitas dan wawasan yang memadai tanpa kehilangan pijakan terhadap tradisi serta nilai-nilai yang telah menjadi fondasi organisasi.

“Generasi muda NU harus hadir bukan hanya sebagai penonton, tetapi menjadi bagian dari solusi. Tantangan ke depan semakin kompleks, sehingga kader NU harus punya kapasitas, wawasan, sekaligus komitmen terhadap kemaslahatan umat dan bangsa,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar Muktamar NU tidak semata dipandang sebagai momentum pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, muktamar dinilai perlu menjadi ruang untuk membicarakan arah perjalanan organisasi dalam jangka panjang, termasuk penguatan kaderisasi dan kelembagaan.

“Yang paling penting dari sebuah muktamar bukan hanya siapa yang terpilih, tetapi apa yang akan dilakukan setelah itu. Bagaimana NU lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan tetap menjadi organisasi yang memberikan manfaat dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” tuturnya.

Senada dengan hal tersebut, M. Arwani Thomafi, Komisaris PT PLN Icon Plus, menilai ruang dialog antarkader muda perlu terus dibangun sebagai bagian dari upaya memperkuat masa depan NU.

“Forum seperti ini penting untuk mempertemukan gagasan dan pengalaman. Kader muda perlu terus berdialog agar mampu membaca perubahan zaman sekaligus menjaga nilai-nilai yang menjadi pijakan NU,” ujar Arwani.

Ia menambahkan bahwa kaderisasi tidak hanya berkaitan dengan regenerasi kepemimpinan, tetapi juga dengan kesiapan generasi muda dalam mengambil peran dan memberikan kontribusi bagi organisasi serta masyarakat.

“Kader muda harus berani mengambil peran. Masa depan NU membutuhkan generasi yang punya kapasitas, terbuka terhadap perubahan, dan tetap berpegang pada nilai-nilai ke-NU-an,” tukasnya.