Pamekasan, DINAMIKA POS.COM— Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Korwilcambiddikbud Kecamatan Batumarmar, Kabupaten Pamekasan, berlangsung meriah. Sebanyak 41 sekolah dasar sederajat ambil bagian dalam ajang yang tidak hanya menjadi ruang kompetisi, tetapi juga menjadi panggung untuk menghidupkan kembali bahasa Madura di kalangan generasi muda.

Kemeriahan FTBI yang digelar pada 2 dan 3 September 2026 tersebut tak lepas dari sinergi dan kerja sama panitia pelaksana bersama seluruh sekolah peserta.

Pelaksana FTBI Batumarmar, Samsir Noor Alamsyah, S.Pd., M.Pd., mengaku bangga sekaligus terharu melihat antusiasme para peserta.

Menurutnya, kegiatan yang dikemas dengan tema “Asonar” tersebut menjadi wadah bagi para murid untuk menunjukkan bakat sekaligus mengimplementasikan kecintaan terhadap bahasa dan budaya Madura.

“Kami sangat bangga dan terharu dengan pelaksanaan acara ini. FTBI menjadi wadah untuk mengimplementasikan setiap bakat murid yang sekaligus diintegrasikan dengan upaya pelestarian bahasa Madura,” ujar Samsir.

Ia berharap FTBI tidak berhenti sebagai ajang perlombaan semata. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kembali kebanggaan anak-anak terhadap bahasa Madura sebagai bagian dari identitas budaya mereka.

“Harapan kami, selain dapat melestarikan bahasa Madura di Bumi Batumarmar, kami juga berharap wakil dari Batumarmar bisa menjadi juara hingga tingkat Jawa Timur,” harapnya.

Beragam cabang lomba turut memeriahkan FTBI Batumarmar. Para peserta berkompetisi dalam mendongeng, membaca puisi, pidato, tembang, carakan, menulis cerita, hingga lawak tunggal berbahasa Madura.

Ragam perlombaan tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk tidak hanya berani tampil, tetapi juga mengenal, menggunakan, dan mengembangkan bahasa Madura melalui cara yang kreatif dan menyenangkan.

Proses seleksi dalam FTBI ini juga diharapkan menjadi indikator bagi sekolah-sekolah di lingkungan Kecamatan Batumarmar untuk terus menumbuhkan penggunaan bahasa Madura dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah perkembangan zaman dan semakin kuatnya penggunaan bahasa populer di kalangan anak-anak, FTBI hadir sebagai pengingat bahwa bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian penting dari identitas, sejarah, dan jati diri generasi penerus.

Dengan melibatkan puluhan sekolah dan ratusan peserta, FTBI Batumarmar menjadi bukti bahwa pelestarian bahasa Madura masih memiliki ruang yang kuat di dunia pendidikan.

Dari panggung sekolah, bahasa ibu kembali menemukan suaranya. Dari Batumarmar, harapan untuk mengharumkan nama Pamekasan di tingkat Jawa Timur pun mulai dinyalakan