JAKARTA, DINAMIKA POS.COM — Peta kekuasaan di Istana mulai menjadi sorotan. Pergeseran posisi orang-orang yang selama ini dikaitkan dengan lingkaran Joko Widodo memunculkan pertanyaan besar, apakah Presiden Prabowo Subianto sedang merapikan barisan kekuasaannya sendiri, sekaligus mengurangi pengaruh pendahulunya secara perlahan?

Di tengah dinamika tersebut, pengamat politik Yunarto Wijaya menilai Prabowo mulai menunjukkan gaya politik yang lebih terukur. Jika dahulu kerap dipersepsikan sebagai sosok yang impulsif, kini Prabowo dinilai semakin lihai memainkan ritme, menghitung risiko, dan mengelola kompromi politik.

Manuvernya tidak harus dilakukan melalui benturan terbuka. Perubahan posisi, pembagian jabatan, hingga penataan ulang lingkaran kekuasaan bisa menjadi bagian dari strategi yang lebih senyap, tetapi memiliki dampak politik yang besar.

Dalam podcast Akbar Faisal Uncensored (AFU), Yunarto menyinggung kemungkinan perubahan gaya politik Prabowo dipengaruhi pengalaman politik Jokowi. Namun, ia juga membuka kemungkinan adanya figur di lingkaran terdekat Prabowo yang berperan membentuk arah manuver politik Presiden. Salah satu nama yang disorotnya adalah Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad.

“Prabowo tidak sehitam-putih dulu. Prabowo sudah menjadi pemain politik yang mengerti ritme dan kompensasi. Apakah itu ditularkan Jokowi, mungkin saja atau mungkin belajar sendiri,” ujar Yunarto, sebagaimana dikutip pada Minggu (19/10/2026).

Pernyataan itu mengisyaratkan satu hal: Prabowo dinilai semakin memahami bahwa kekuasaan tidak selalu harus dipertahankan melalui konfrontasi. Dalam politik, seseorang tidak harus langsung disingkirkan untuk kehilangan pengaruh. Perubahan posisi saja dapat mengubah akses, peran, dan daya tawarnya.

Yunarto juga menilai perubahan gaya Prabowo mungkin tidak terlepas dari peran operator politik di lingkaran dalam pemerintahan. Dalam pandangannya, Dasco merupakan salah satu figur yang patut diperhatikan karena memiliki pengalaman politik, pengaruh di parlemen, dan posisi strategis dalam dinamika koalisi.

“Ada kemungkinan kedua, ada operator politik, orang dekat Prabowo yang berhasil membentuk kebijakan Prabowo, manuver Prabowo, juga menjadi seorang politisi. Saya sebut saja Bang Dasco,” kata Yunarto.

Ia menilai Prabowo kini tidak lagi seimpulsif sebelumnya dalam memainkan politik, termasuk dalam menghadapi dinamika orang-orang yang selama ini diasosiasikan dengan Jokowi.

Jika pembacaan tersebut tepat, perubahan di lingkaran Istana bukan sekadar urusan rotasi jabatan. Ada kemungkinan proses konsolidasi kekuasaan sedang berlangsung, dengan perhitungan yang lebih cermat dan minim kegaduhan.

Namun, anggapan bahwa perubahan posisi pejabat merupakan upaya sistematis untuk menyingkirkan pengaruh Jokowi tetap memerlukan bukti dan konfirmasi lebih lanjut. Pergeseran jabatan saja belum cukup untuk menyimpulkan adanya operasi politik tertentu.

Persoalan utamanya bukan semata-mata siapa yang mendapat jabatan dan siapa yang kehilangan posisi strategis. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang kini paling menentukan arah kebijakan, mengendalikan komunikasi politik, dan memegang kendali atas keseimbangan kekuatan di pemerintahan.

Prabowo memiliki kepentingan untuk memastikan pemerintahannya berjalan berdasarkan agenda dan otoritasnya sendiri. Pada saat yang sama, hubungan politik dengan Jokowi dan jaringan pendukungnya menjadi bagian dari kalkulasi yang tidak sederhana.

Di sinilah gaya politik yang lebih halus menjadi penting. Konsolidasi dapat berlangsung tanpa deklarasi permusuhan, sementara perubahan konfigurasi kekuasaan perlahan membentuk pusat pengaruh yang baru.

Nama Dasco pun masuk dalam sorotan Yunarto sebagai figur yang dinilai berpotensi memainkan peran penting dalam proses tersebut. Meski demikian, sejauh mana pengaruhnya terhadap keputusan Presiden tetap menjadi persoalan yang perlu diuji melalui fakta, bukan sekadar spekulasi.

Pada akhirnya, dinamika ini menyisakan pertanyaan besar, apakah Prabowo sedang membangun kemandirian politik dari bayang-bayang pendahulunya, atau justru mengadopsi gaya Jokowi untuk mengonsolidasikan kekuasaan dengan cara yang lebih senyap?

Satu hal yang jelas, perebutan pengaruh di lingkaran kekuasaan tidak selalu berlangsung melalui pertarungan terbuka. Terkadang, perubahan paling menentukan justru terjadi ketika publik hanya melihat pergantian jabatan, sementara arah dan keseimbangan kekuasaan perlahan bergeser.