Ketika Kesenian dan Kebudayaan Hanya Menjadi Pajangan Seremonial

Dari kejauhan, kota ini tampak hidup. Jalanan ramai, warung kopi penuh, gedung-gedung berdiri, dan orang-orang sibuk memperdebatkan kekuasaan, kepentingan, serta siapa yang paling benar. Namun, di balik keramaian itu, ada sesuatu yang perlahan mati, yaitu kebudayaan.

Kita terlalu sibuk membangun wajah kota, tetapi lupa merawat jiwanya. Terlalu bersemangat memperdebatkan politik, tetapi nyaris tak punya energi untuk membicarakan kesenian. Kita pandai membuat keramaian, tetapi miskin gagasan. Pandai menyelenggarakan acara, tetapi gagap menciptakan gerakan.

Kebudayaan bukan sekadar tarian yang dipentaskan ketika pejabat datang. Bukan pakaian adat yang dikenakan saat festival. Bukan pula spanduk bertuliskan pelestarian dan pemberdayaan yang setelah acara selesai hanya menjadi sampah visual.

Kebudayaan adalah identitas, ingatan, sekaligus harga diri sebuah masyarakat. Ketika kesenian kehilangan ruang hidupnya, sebuah kota sesungguhnya sedang kehilangan cermin untuk mengenali dirinya sendiri.

Sayangnya, kita justru sibuk merayakan kebudayaan tanpa benar-benar menghidupkannya. Seminar digelar, narasumber didatangkan, gedung disewa, konsumsi disiapkan, dokumentasi dipenuhi foto-foto, lalu laporan disusun dengan kalimat-kalimat yang terdengar hebat. Ada kata pengembangan, penguatan, pemberdayaan, dan pelestarian.

Tetapi setelah semua itu selesai, apa yang berubah?. Seniman masih berjuang sendiri. Komunitas masih mencari ruang. Sanggar masih bertahan dengan keterbatasan. Karya masih kesulitan menemukan panggung dan penonton. Sementara kegiatan demi kegiatan terus diproduksi seolah-olah banyaknya acara adalah ukuran keberhasilan kebudayaan.

Jangan-jangan yang sedang kita lestarikan bukan kebudayaan, melainkan kebiasaan menghabiskan anggaran atas nama kebudayaan.

Kritik ini tentu bukan untuk menolak seminar, festival, atau kegiatan kesenian. Tetapi kita perlu jujur, bahwa kebudayaan bukan soal seremoni dan setelah itu yang diharapkan hanya tepuk tangan dan sanjungan.

Jangan sampai kebudayaan hanya hidup dalam proposal, undangan, laporan pertanggungjawaban, dan pidato sambutan.

Lebih ironis lagi, sebagian komunitas kesenian pun mulai kehilangan keberanian untuk berkarya di luar kepentingan panggung. Sibuk mengejar undangan, menunggu kesempatan tampil, berburu dokumentasi, dan berharap dilibatkan dalam kegiatan. Kreativitas akhirnya tunduk pada jadwal acara, sementara idealisme perlahan dikalahkan oleh kepentingan.

Panggung menjadi tujuan, bukan ruang untuk menyampaikan gagasan. Padahal seni tidak dilahirkan hanya untuk menghibur orang-orang yang duduk di kursi kehormatan. Seni juga harus berani mengusik, menggugat, menyindir, bahkan membuat penguasa dan masyarakat tidak nyaman ketika berhadapan dengan kenyataan.

Jika seniman hanya berani tampil tetapi takut bersuara, lalu apa bedanya karya dengan dekorasi acara?
Jika komunitas hanya bergerak ketika ada undangan, lalu di mana letak kemandiriannya?
Jika kebudayaan hanya dibicarakan ketika ada anggaran, lalu siapa yang sebenarnya sedang kita perjuangkan?

Kita tidak kekurangan acara. Kita kekurangan keberanian, konsistensi, dan kejujuran. Warung kopi yang dahulu bisa menjadi ruang lahirnya pemikiran kini sering terjebak dalam perdebatan yang berputar-putar. Politik menjadi bahan obrolan tanpa ujung. Kelompok saling mencurigai. Ego dipelihara. Perbedaan dijadikan alasan untuk saling menjauh.

Semua merasa paling peduli terhadap kota, tetapi sedikit yang bersedia bekerja untuk masa depan kebudayaannya. Kita lebih mudah membangun kelompok daripada membangun ekosistem. Lebih mudah mengklaim diri sebagai pelaku kebudayaan daripada membuktikannya melalui karya. Lebih senang dihargai daripada menghargai proses orang lain.

Akhirnya, kebudayaan terpecah menjadi lingkaran-lingkaran kecil yang sibuk mempertahankan wilayah masing-masing. Lalu kita bertanya, mengapa kesenian tidak berkembang?

Bagaimana mungkin kebudayaan tumbuh jika para pelakunya sibuk saling mengerdilkan? Bagaimana mungkin lahir gerakan besar jika setiap gagasan selalu diukur dari siapa yang menggagasnya, bukan dari manfaatnya?

Kota ini tidak membutuhkan lebih banyak orang yang mengaku sebagai penjaga kebudayaan. Kota ini membutuhkan orang-orang yang benar-benar bekerja menjaga kebudayaan.

Sebab gelar, jabatan, komunitas, dan atribut tidak otomatis menjadikan seseorang berbudaya. Kebudayaan tidak membutuhkan panggung yang megah jika pikiran orang-orang di dalamnya masih sempit.

Sebuah kota seharusnya memberi ruang bagi seniman untuk bereksperimen, bagi komunitas untuk berdialog, bagi generasi muda untuk menciptakan karya, dan bagi kritikus untuk disampaikan tanpa harus takut kehilangan tempat.

Namun, ketika ruang-ruang itu semakin menyempit, ketika gagasan hanya dihargai jika sesuai kepentingan, ketika karya harus menunggu restu dan undangan, kita patut bertanya, apakah kota ini benar-benar sedang membangun kebudayaan atau sekadar membangun citra?

Kota yang berbudaya bukan kota yang paling banyak menyelenggarakan festival. Kota yang berbudaya adalah kota yang mampu membuat keseniannya hidup bahkan ketika tidak ada pejabat, tidak ada anggaran, dan tidak ada kamera yang merekam. Sebab karya sejati tidak membutuhkan tepuk tangan untuk membuktikan keberadaannya.

Kota Ini Mungkin Belum Mati, Tetapi Jiwanya Sedang Dipertaruhkan.

Ia masih memiliki jalan, gedung, kendaraan, warung kopi, dan manusia. Namun, jika ingatan kolektifnya hilang, keseniannya hanya menjadi tontonan, dan kebudayaannya hanya menjadi urusan seremonial, apa yang sebenarnya tersisa dari sebuah kota?

Kota hantu adalah kota yang kehilangan ingatan. Kota yang masyarakatnya sibuk mengejar kepentingan, tetapi lupa merawat identitas. Kota yang panggungnya ramai, tetapi gagasannya sepi. Kota yang festivalnya meriah, tetapi senimannya tetap berjalan sendiri. Dan yang paling menyedihkan, penghuninya tidak sadar bahwa mereka sedang kehilangan rumahnya sendiri.

Kota Hantu Itu Adalah Kotaku.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua telah mati. Masih ada seniman yang berkarya tanpa panggung besar. Masih ada komunitas yang bertahan tanpa tepuk tangan. Masih ada orang-orang yang menjaga tradisi, merawat ingatan, dan menolak tunduk pada kebiasaan lama.

Tetapi mereka tidak boleh terus dibiarkan berjuang sendirian. Kebudayaan tidak membutuhkan lebih banyak pidato tentang pelestarian. Ia membutuhkan keberpihakan nyata. Tidak membutuhkan sekadar festival tahunan, tetapi ruang hidup yang berkelanjutan. Tidak membutuhkan orang-orang yang pandai berbicara tentang seni, tetapi orang-orang yang bersedia bekerja untuk masa depan seni.

Sudah waktunya berhenti berpura-pura bahwa banyaknya kegiatan berarti majunya kebudayaan. Sudah waktunya berhenti menjadikan seniman sebagai pelengkap acara, komunitas sebagai pengisi panggung, dan tradisi sebagai komoditas pencitraan.

Sebab jika setiap tahun kita hanya sibuk merayakan kebudayaan tanpa membangun masa depannya, jangan salahkan zaman ketika generasi berikutnya tidak lagi mengenali warisan kotanya sendiri.

Jangan sampai kita menjadi generasi yang paling sering berbicara tentang kebudayaan, tetapi justru menjadi generasi yang paling banyak meninggalkan.

Untuk apa kita berkesenian?
Untuk siapa kebudayaan dilestarikan?
Dan sampai kapan kita akan puas dengan seremoni yang tidak meninggalkan apa-apa?

Jangan biarkan kotaku menjadi kota hantu. Sebab ketika kebudayaan mati, yang tersisa mungkin hanya gedung-gedung megah, jalanan yang lebar, panggung yang gemerlap, dan manusia-manusia yang sibuk merayakan sesuatu yang bahkan tidak lagi mereka pahami.