PAMEKASAN,Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Badung, Kecamatan Proppo, menuai kritik. Sipul, ketua Forum Kajian Kebijakan Publik (FKKP) Pamekasan menilai menu yang diterima siswa tidak sebanding dengan anggaran yang disebut mencapai Rp10 ribu per porsi.
Kritik itu disampaikan Syaiful, menyusul beredarnya foto dan laporan siswa terkait menu MBG yang diterima. Menurut dia, siswa hanya memperoleh nasi, kentang, dan ikan kembung.
“Jika anggarannya Rp10 ribu per porsi, perlu dijelaskan komposisi biayanya,”kata Syaiful kepada wartawan.
Pihaknya, juga menilai menu MBG yang disalurkan janggal serta tidak sepenuhnya selaras dengan standar komposisi gizi yang dianjurkan dalam kebijakan nasional.
Selanjutnya, ia menyatakan evaluasi menyeluruh dinilai perlu dilakukan, baik dari sisi komposisi menu, keamanan penyajian, hingga cita rasa, agar tujuan program MBG dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat dapat tercapai secara optimal.
Sementara, salah satu siswa berinisial A H, menyatakan menu yang disajikan hanya berupa nasi, kentang, dan ikan kembung.
“Menunya tidak seperti biasanya kurang lengkap. Serta tidak enak,” Ungkap Siswa.
Perwakilan dapur MBG yang diwakili oleh staf dapur atas nama rofiki, menyampaikan bahwa menu tersebut telah disusun berdasarkan rekomendasi ahli gizi.
“Sudah berdasarkan ketentuan ahli gizi, untuk protein, karbohidrat dan lainnya kami serahkan sepenuhnya kepada ahli gizi,” ujarnya singkat kepada wartawan.
Ia juga menambahkan bahwa proses pendistribusian telah dikoordinasikan dengan pihak koordinator pemorsian guna memastikan penyaluran berjalan sesuai prosedur.
Sekretaris Satgas MBG yang juga memiliki latar belakang di bidang kesehatan, Saifuddin, memberikan catatan evaluatif. Dalam pesan suara yang dikirim melalui WhatsApp, ia menyebutkan bahwa secara umum kandungan gizi menu tersebut memang telah mencukupi, namun terdapat beberapa hal yang perlu diperbaiki.
“Secara kandungan nutrisi sudah cukup, ada karbohidrat, lemak, dan protein. Tapi perlu evaluasi karena ada ‘double karbo’, yakni nasi dan kentang dalam satu menu. Seharusnya salah satunya bisa diganti dengan komponen lain,” jelasnya.
Ia juga menyoroti penyajian ikan kembung utuh yang dinilai berisiko bagi anak-anak.
“Ikan utuh seperti itu berbahaya karena ada duri. Kita tidak bisa menjamin anak-anak makan dengan aman. Selain itu, dari segi rasa juga perlu ditingkatkan,” tambahnya.
Sementara, Saifuddin, sekretaris satgas MBG. Menyatakan bahwa dirinya tidak berkomentar banyak soal temuan menu MBG dan tidak bisa memberikan teguran langsung.
“Terkait kemungkinan sanksi, sepenuhnya berada di tangan koordinator wilayah (korwil) BGN,” Singkat Saifuddin.
