Sampang, DinamikaPos – Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas terus dilakukan oleh Kelompok Kerja Guru (KKG) “Lumba-lumba” Wilayah Kerja 2 Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, melalui Pelatihan Penguatan Digitalisasi Pembelajaran Numerasi yang Menyenangkan Tahun 2026.
Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kompetensi guru, tetapi juga diarahkan pada bagaimana siswa dapat merasakan pengalaman belajar yang lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami, khususnya dalam pembelajaran numerasi yang selama ini kerap dianggap sulit.
Kolaborasi dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Madura menjadi langkah strategis untuk memastikan materi yang diberikan tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga kuat secara konsep.
Hal ini penting agar penggunaan perangkat digital tidak sekadar menjadi pelengkap, melainkan benar-benar membantu siswa memahami konsep matematika secara mendalam.
Dalam praktiknya, pemanfaatan teknologi seperti Interactive Flat Panel (IFP) mulai mengubah wajah pembelajaran di kelas. Siswa tidak lagi hanya mendengar penjelasan guru, tetapi juga terlibat langsung melalui visualisasi, simulasi, dan aktivitas interaktif yang membuat proses belajar menjadi lebih hidup.
Ketua K3S Camplong, Fadlan, M.Pd, menilai bahwa perubahan pendekatan ini menjadi kunci dalam meningkatkan minat belajar siswa. Menurutnya, pembelajaran yang menyenangkan akan berdampak langsung pada pemahaman dan hasil belajar.
“Ketika siswa merasa senang belajar, maka mereka akan lebih mudah memahami materi. Teknologi membantu menciptakan suasana itu,” ungkapnya.
Sementara itu, dari sisi pengawasan, Bambang Wimbo Hapsoro, S.Pd., M.Si, menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada konsistensi implementasi di kelas.
Ia mengingatkan bahwa fasilitas yang telah diberikan pemerintah, seperti akses internet dan rencana bantuan laptop, harus dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang proses belajar siswa.
“Yang terpenting bukan hanya pelatihannya, tetapi bagaimana siswa benar-benar merasakan perubahan dalam pembelajaran sehari-hari,” tegasnya.
Dari perspektif akademik, Dekan FKIP Universitas Madura, Dr. Moh. Zayyadi, M.Pd., menyoroti pentingnya membangun pemahaman konsep numerasi yang benar sejak dini. Ia menyebut bahwa kesalahan konsep yang dialami guru dapat berdampak panjang terhadap cara siswa memahami matematika.
Melalui pelatihan ini, guru didorong untuk tidak hanya mengajarkan rumus, tetapi juga menjelaskan makna di baliknya dengan bantuan media digital yang mampu memvisualisasikan konsep abstrak menjadi lebih konkret.
Pelatihan yang dilaksanakan dalam dua tahap ini diharapkan menjadi titik awal perubahan pembelajaran di sekolah dasar, di mana teknologi, kreativitas guru, dan kebutuhan belajar siswa dapat berjalan selaras.
Ke depan, pendampingan berkelanjutan dari FKIP Universitas Madura akan menjadi faktor penting untuk memastikan bahwa transformasi ini tidak berhenti sebagai program sesaat, melainkan berkembang menjadi budaya belajar baru yang lebih adaptif, inovatif, dan berorientasi pada kebutuhan siswa.
