PAMEKASAN, – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali menegaskan komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata – Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PM).
Kali ini, ITS menyalurkan bantuan infrastruktur batik kepada kelompok pengrajin di Desa Toket, Kabupaten Pamekasan, Madura, sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat daya saing di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
Desa Toket dan Candi Burung merupakan salah satu sentra batik potensial di Kabupaten Pamekasan. Namun, selama ini para pengrajin masih menghadapi berbagai keterbatasan, khususnya pada aspek fasilitas produksi. Hal tersebut membuat mereka belum mampu mengelola pemasaran produk secara mandiri dan masih bergantung pada Sentra Batik
lainnya.
Menjawab kebutuhan itu, ITS melalui KKN-PM memberikan bantuan berupa pengadaan peralatan produksi, perbaikan sarana penunjang, hingga penyediaan fasilitas promosi. Bantuan ini didukung oleh pendanaan dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat
(DRPM) ITS.
Diharapkan, infrastruktur yang lebih memadai ini dapat menunjang keberlangsungan usaha batik, menjaga mutu produk, serta mengefisienkan proses produksi dan distribusi.
Dosen pendamping lapangan KKN-PM ITS, Imam Safawi Ahmad, menyampaikan bahwa kegiatan KKN ini bermafaat bagi mahasiswa maupun mintra masyarakat. Mahasiswa semakin terasah kepedulian dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Bagi mitra ini dapat meningkatkan kemampuan kemandirian dengan tetap membawa identitas
lokalnya di tengah tantangan perubahan pola ekonomi dan aspek kehidupan lainnya,” Ungkap Imam Safawi Ahmad. Selasa (19/8/2025).
Kegiatan ini, kata Imam Safawi Ahmad, bukan berarti menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapi mitra, tetapi setidaknya dapat menjadi pemicu semangat dalam membatik dan memberikan solusi. Sehingga diharapkan masyarakat semakin berdaya, mandiri dalam meningkatkan taraf ekonomi dan melestarikan nilai-nilai luhur lokalnya.
Penyaluran bantuan infrastruktur ini, lanjut Imam Safawi Ahmad, maka Mahasiswa ITS berharap Desa Toket dapat berkembang menjadi sentra batik mandiri yang mampu menjadi motor penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
“Jadi batik tidak hanya sebatas produk, tetapi batik Toket diharapkan menjadi simbol kemandirian, identitas budaya, sekaligus kebanggaan masyarakat Madura yang diwariskan dari generasi ke generasi,” Tukasnya.
