Papua, DINAMIKA POS – Raja Ampat belum benar-benar bebas dari ancaman tambang nikel. Di balik statusnya sebagai Cagar Biosfer UNESCO dan simbol keindahan laut dunia, tiga perusahaan justru tengah bersiap masuk lewat jalur perizinan dan gugatan hukum.

Laporan Greenpeace Indonesia bertajuk Surga yang Tak Terlindungi mengungkap, PT Raja Ampat Nikel Abadi (RANA), PT Waegeo Mineral Mining (WMM), dan PT Eka Kurnia Baru (EKB) sedang memproses izin tambang di wilayah timur Pulau Waigeo.

RANA disebut sebagai pemain baru yang sejak 2025 aktif sosialisasi ke warga Kampung Urbinasopen. Namun lokasi konsesinya belum terang, memicu kecurigaan akan operasi tambang yang disiapkan diam-diam di wilayah sensitif.

Sementara itu, EKB dan WMM adalah pemain lama yang mencoba bangkit lewat jalur pengadilan. WMM bahkan sudah menang dan putusannya inkracht, membuka jalan bagi IUP mereka untuk diakui negara. EKB? Meski sempat kalah di tingkat kasasi hingga PK, mereka tetap agresif melawan pemerintah demi menghidupkan kembali izin tambangnya.

Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bersikukuh hanya satu perusahaan yang beroperasi di Raja Ampat, yakni PT Gag Nikel. Ia menyebut izin lainnya sudah dicabut.

Namun Greenpeace membalas ancaman belum selesai. Menurut mereka, manuver perusahaan tambang terus terjadi karena wilayah Raja Ampat masih dimasukkan sebagai zona pertambangan oleh pemerintah sendiri.

“Kalau statusnya masih wilayah tambang, ya pintunya tetap terbuka,” sindir Greenpeace.

Masalahnya bukan sekadar izin. Tambang nikel di pulau kecil seperti Waigeo berpotensi merusak ekosistem laut paling kaya di dunia. Sedimentasi, deforestasi, hingga pencemaran laut bukan lagi ancaman melainkan risiko nyata yang sudah mulai terlihat.

Dampaknya, Masyarakat adat yang selama ini hidup dari laut akan terpukul. Perempuan disebut sebagai kelompok paling rentan, kehilangan sumber pangan, air bersih, hingga ruang hidup. Bahkan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun terancam hilang.

Padahal Raja Ampat adalah rumah bagi lebih dari 75% spesies karang dunia dan ribuan spesies laut lainnya. Kawasan ini bukan hanya indah, tapi krusial bagi keberlangsungan ekologi global.

Ironisnya, di tengah narasi transisi energi dan nikel untuk masa depan hijau, Greenpeace mendesak satu hal tegas, keluarkan Raja Ampat dari wilayah pertambangan sebelum surga terakhir di bumi berubah jadi ladang eksploitasi berikutnya.